Tentang Rasa

Berhentilah, Tuan.

Pada Tuan,

Penikmat hujan.

Berhentilah mencari hujan,

Aku takut kamu kedinginan,

Juga karena hujan selalu membawamu pada masa lalu,

Tentang lukamu,

juga perjuanganmu,Mengejarnya.

 

Berhentilah mencari kenang,

Untuk diajak mengulang.

Tak ada yang perlu kembali,

Entah itu kamu atau dia.

Untuk kembali menjadi kalian.

 

—duatiga

Advertisements
Tentang Rasa

3 years, isn’t short time

Aku suka sama kamu, kamu suka sama dia, dia suka sama temanmu,……-CJR, Teman Saja.

Seakan lagu itu mengejek kita, yang memperjuangkan orang, sedang yang kita perjuangkan, mengejar orang lain. Ironi.

Sejauh dan seberapa lama pun aku menunggu, tak akan ada yang berubah. Kamu tau, mengejar dan mengharapkan kamu hanya berujung pada lukaku yang terus bertambah.

Lelah. Kata itu yang ingin aku sampaikan sekarang. seakan yang kuusahakan, tak akan membuahkan apapun, selain kesedihan dan sendu.

Kamu tau, menahan semua termasuk rasa tak semudah yang kamu bayangkan. Terlebih orang itu ada di setiap harimu.

Aku sudah tau, kita sama sama di permainkan oleh rasa. Bukankah waktu ku dan kamu menunggu sama? Sejak tiga tahun lalu, tapi yang membedakan; Aku menunggumu sedang kamu menunggunya. Perih.

Sebenarnya aku diam hanya untuk menjaga jalinan ‘pertemanan’ antara kita, Itu saja. Juga agar tak terjadi kecanggungan antar kita. Aku tau kisah cinta mu sudah rumit dan sakit, tentunya. Aku tak mau menambah rumitnya cinta mu, dengan pengakuanku. Sudah cukup semua, selama ini. 

Cukup juga aku terluka, melihatmu terluka. Dan cukup aku memelukku dengan doa. Sukses selalu, dan berbahagialah.

Untuk tuan penyuka hujan.

Dari, pengagum mu.

Tentang Rasa

Tak semudah itu.

Bukan melupakan yang jadi masalah, tapi menerima. Barang siapa dapat menerima pasti dapat melupakan.

-Hujan, Tere Liye.

Berhentilah memperjuangkanku; katamu mengakhiri sore itu.

Lidahku serasa mati. Kelu. Sesak. Hari yang tak kuingini datang, saat ini.

Kamu pikir mudah? Setelah semua itu.

Melupakanmu bukanlah perihal yang kecil. Menghapusmu dari ingatan sama halnya dengan menapaki jalan berduri yang berliku; perih.

Kamu hebat ya, bisa menghancurkanku dengan beberapa kalimat saja. Sedang aku, terlalu sulit untuk lepas dari jerat kenangan bersamamu.

Kamu, kukira tempat paling tepat ku untuk berpulang. Tapi aku salah, hidup ku masih berjalan dan tak mungkin hidupku terus tentang kamu.

Selamat tinggal, masa lalu dan kamu, yang hanya bisa dikenang dan dijadikan pembelajaran.

Tentang Rasa

Menanti senja

Aku menanti senja, bukan untuk mengenang kita.

Aku hanya menunggu, saat-saat menikmati semburat langit.

Bukan untuk mencari kemana masa lalu itu berakhir, juga bukan lagi meratapi yang terjadi tentang kita.

Sebenarnya, senja tak sesakit itu untukku. Karena tak setiap senja aku bersamamu.

Yang selalu ku renungkan saat senja ialah; aku bersyukur masih dipertemukan dengan setiap senja oleh-Nya. 

P.s: first post!