Tentang Rasa

Antara

Antara,
Bukan ini atau itu,
Sebuah jawaban tidak pasti atas pilihan pilihan yang pasti.

Antara,
Bukan iya, bukan juga tidak
Sebuah kepastian yang tidak pasti

Antara,
Menyatukan sesuatu yang jumlahnya dua, tapi bukan salah satu dari keduanya,
Tapi, ditengah keduanya sekaligus

Antara,
Bukan aku, juga kamu.
Tapi ini,
Antara kita,
Aku dan juga kamu.

-23jan17

Advertisements
Tentang Rasa

Dibalik rintik hujan

Tentang Hujan
Kota sore ini diselimuti dingin
Guyuran hujan menusuk permukaan tanah,
mengalir, dan hilang.
Menyerbu setiap sudut kota,
Tanpa terkecuali.

Gemercik air bersentuhan genting,
Pohon, juga pencakar langit menimbulkan berisik, sangat.
Titik titik itu berubah jadi genangan,
Aroma tanah khas hujan, menyeruak, menggelitik,
Membangkitkan kenangan lalu, dibawah rintik hujan, yang menderas tiap detiknya.

Lagi, dan lagi
Rindu itu kembali.
Seperti hinggap tak mau pergi
Rintik itu, menderas
Sederas tangisku karena luka itu.

Wahai hujan,
Berhenti jatuh,
Agar aku, tak jatuh semakin jauh.

(Januari, 2017)

Tentang Rasa

3 years, isn’t short time

Aku suka sama kamu, kamu suka sama dia, dia suka sama temanmu,……-CJR, Teman Saja.

Seakan lagu itu mengejek kita, yang memperjuangkan orang, sedang yang kita perjuangkan, mengejar orang lain. Ironi.

Sejauh dan seberapa lama pun aku menunggu, tak akan ada yang berubah. Kamu tau, mengejar dan mengharapkan kamu hanya berujung pada lukaku yang terus bertambah.

Lelah. Kata itu yang ingin aku sampaikan sekarang. seakan yang kuusahakan, tak akan membuahkan apapun, selain kesedihan dan sendu.

Kamu tau, menahan semua termasuk rasa tak semudah yang kamu bayangkan. Terlebih orang itu ada di setiap harimu.

Aku sudah tau, kita sama sama di permainkan oleh rasa. Bukankah waktu ku dan kamu menunggu sama? Sejak tiga tahun lalu, tapi yang membedakan; Aku menunggumu sedang kamu menunggunya. Perih.

Sebenarnya aku diam hanya untuk menjaga jalinan ‘pertemanan’ antara kita, Itu saja. Juga agar tak terjadi kecanggungan antar kita. Aku tau kisah cinta mu sudah rumit dan sakit, tentunya. Aku tak mau menambah rumitnya cinta mu, dengan pengakuanku. Sudah cukup semua, selama ini. 

Cukup juga aku terluka, melihatmu terluka. Dan cukup aku memelukku dengan doa. Sukses selalu, dan berbahagialah.

Untuk tuan penyuka hujan.

Dari, pengagum mu.

Tentang Rasa

Tak semudah itu.

Bukan melupakan yang jadi masalah, tapi menerima. Barang siapa dapat menerima pasti dapat melupakan.

-Hujan, Tere Liye.

Berhentilah memperjuangkanku; katamu mengakhiri sore itu.

Lidahku serasa mati. Kelu. Sesak. Hari yang tak kuingini datang, saat ini.

Kamu pikir mudah? Setelah semua itu.

Melupakanmu bukanlah perihal yang kecil. Menghapusmu dari ingatan sama halnya dengan menapaki jalan berduri yang berliku; perih.

Kamu hebat ya, bisa menghancurkanku dengan beberapa kalimat saja. Sedang aku, terlalu sulit untuk lepas dari jerat kenangan bersamamu.

Kamu, kukira tempat paling tepat ku untuk berpulang. Tapi aku salah, hidup ku masih berjalan dan tak mungkin hidupku terus tentang kamu.

Selamat tinggal, masa lalu dan kamu, yang hanya bisa dikenang dan dijadikan pembelajaran.

Tentang Rasa

Menanti senja

Aku menanti senja, bukan untuk mengenang kita.

Aku hanya menunggu, saat-saat menikmati semburat langit.

Bukan untuk mencari kemana masa lalu itu berakhir, juga bukan lagi meratapi yang terjadi tentang kita.

Sebenarnya, senja tak sesakit itu untukku. Karena tak setiap senja aku bersamamu.

Yang selalu ku renungkan saat senja ialah; aku bersyukur masih dipertemukan dengan setiap senja oleh-Nya. 

P.s: first post!