Tak Berkategori

Ruang

Aku mengerjap perlahan,
Ini sebuah ruang
gelap, sesak, dan hampa.
Dimana aku?

Ruang ini bagai harapan yang pupus
tak ada seberkas cahaya pun yang tampak.
Kosong, berdebu, tak terawat
Apa pemiliknya mati, atau ruang ini memang dibiarkan mati

Lalu aku mengamati lagi,
ruangan ini seperti tak asing,
aku melihat bayangan semu
Seorang gadis meringkuk sambil menangis
Tangisnya terdengar pilu.
Aku mengenalnya, pikirku.

Aku mendekat kearahnya,
hendak mengusap menenangkannya.
Tapi dia menghilang,

Kudengar lagi suara,
kali ini sebuah lagu,
Lagu favoritku, aku tersenyum.
Ikut bernyanyi bersama alunan itu,
tanpa sadar menangis haru.
Lagu ini menyesakkan.

Selanjutnya gadis itu datang lagi,
masih menangis,
Aku kembali mendekatinya,
kali ini dia tidak menghilang.
Kuusap pelan pundaknya,
Ia menengok,
bola mataku hampir keluar,
bukan, bukan karena matanya sangat sembab,
Bukan juga dia mengerikan.
Tapi dia, adalah diriku sendiri.

Aku tersingkap,
dimanakah aku?
Aku pikir, apakah ini ruang hatiku?
Apakah serusak ini hatiku?
Yang kukira telah mati,
mati rasa, mati fungsi
Karena lelah, mencintai dan tidak dihargai.

22:05, orcva

Advertisements
Friendship · Life · Tak Berkategori

Memilih jalannya sendiri 

Kita usai. Saat kamu memilih menyudahi kisah kita.

Bukan. Bukan kamu juga yang sepenuhnya salah. Mungkin memang harus seperti ini, ini sudah jalannya. 

Saya tahu betul. Merelakan sama sulitnya menerima orang baru. Sungguh sulit. Tapi, tidak ada lagi yang bisa kita benahi, kamu harus pergi karena pilihanmu sendiri.

Saya ingin kamu kembali, saya ingin kejelasan atas semua ini. Tapi percuma, jika kamu tak mau kembali, apalagi menjelaskan yang sedang terjadi. 

Saya menyerah pada semua. Walau sakit saya mencoba menerima. Ternyata sulit ya? Tak semudah kelihatannya. Harusnya sejak awal saya paham, bagaimanapun pasti akan dihadapkan sebuah perpisahan. Entah bagaimana cara dan kapan kejadiannya. Tak peduli sesakit apapun, perpisahan harus di jalani.

Saya hanya bisa menerima. Selain itu saya bisa apa? Mendoakan? Ah iya. Bahagia selalu dengan pilihanmu. Maaf jika esok kamu memutuskan kembali, saya tak yakin tempatmu masih sama dihati. Saya juga tak yakin bisa menerima kamu kembali. Dan saya ragu, semua masih sama untukmu.

Biarlah semua seperti ini. Selamat tinggal, teman. Tunggu apa yang terjadi selanjutnya. Kamu kembali atau semua benar-benar selesai.

P.s: bukan  takut untuk menyampaikan langsung padamu. Saya hanya takut saat bicara langsung kepada kamu hanya akan memperparah keadaan. Suatu hari, semoga kamu membaca. Tau apa yang saya rasa. Saya tak berharap kamu kembali, saya hanya berharap kamu paham tentang semuanya. Belajarlah memahami orang lain, jangan hanya ingin dipahami. Orang lain juga butuh didengar, tak hanya mendengar. Seperti halnya kamu.

                          Dari Anggrek.